Senin, 02 Februari 2026 bertempat di Desa Jonggimanulus, Desa Dolok Nauli dan Desa Galagala Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Embung Tanjungan, yang berada di Desa Jonggimanulus, Kecamatan Parmaksian, mengalami penyusutan air secara drastis sehingga hanya menyisakan kedalaman sekitar setengah meter dari dasar sebelumnya yang sempat mencapai 10 meter. Kondisi ini membuat ratusan hektar sawah di tiga desa tersebut terancam gagal tanam karena sumber air untuk irigasi persawahan hampir tidak tersedia. Peristiwa ini dirasakan langsung oleh ratusan petani yang berasal dari Desa Jonggimanulus, Desa Dolok Nauli, serta sebagian wilayah Desa Galagala Pangkailan. Mereka selama ini menggantungkan kebutuhan air sawah dari Embung Tanjungan. Kondisi tersebut turut disampaikan oleh Kepala Dusun II Desa Jonggimanulus, Horas Manurung, yang mewakili suara dan keluhan para petani terkait menyusutnya air embung yang berdampak besar pada aktivitas pertanian warga.
Menurut penjelasan warga dan Kadus II, Embung Tanjungan merupakan embung yang hanya bergantung pada tadah hujan dan tidak memiliki aliran sumber air yang masuk secara alami. Akibatnya selama musim kering, embung tersebut cepat surut dan tidak mampu menyediakan suplai air yang cukup bagi lahan pertanian. Peristiwa ini bermula ketika musim tanam tiba dalam kondisi musim kering, sehingga embung yang sebelumnya mampu menyimpan air dari musim hujan kini hampir kosong. Air embung yang menjadi satu-satunya sumber irigasi bagi tiga desa itu menyusut drastis hingga hanya mencapai setengah meter, sementara jarak sumber air terdekat seperti Sungai Asahan masih sekitar 2 kilometer dari lokasi embung. Upaya warga menyampaikan aspirasi mulai dari anggota DPR hingga pihak perusahaan sebelum embung ditutup belum membuahkan solusi.
#EmbungTanjungan #MusimKering #PetaniMenjerit #PertanianSumut #Parmaksian
Infografis Cabjari Porsea