Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Hubungi Kami
Jumat, 04 September 2026

Jalan Penghubung Tiga Kecamatan di Porsea Rusak Parah, Aktivitas Tambang Pasir Disorot Warga
Oleh Admin | Senin, 18 Mei 2026
Bagikan :

Senin, 18 Mei 2026, bertempat di desa Galagala Pakkailan (Galpak), Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Aktivitas tambang pasir di Desa Galagala Pakkailan (Galpak), Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, kini menjadi perhatian warga setelah kerusakan jalan desa semakin parah dan mengganggu aktivitas masyarakat. Warga menyebut operasional tambang yang telah berlangsung sekitar enam tahun itu berada di bawah koordinasi Kepala Desa Galagala Pakkailan, Batoanto Manurung. Selain itu, sejumlah pemilik lahan dan pengelola tambang pasir juga ikut disorot karena dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi jalan yang digunakan masyarakat setiap hari. Kondisi ini bahkan telah sampai ke perhatian Camat Porsea, Freddy Napitupulu, S.H., yang turun langsung ke lokasi usai menerima laporan dan keluhan masyarakat. Warga berharap Inspektorat Kabupaten Toba dan Satreskrim Polres Toba segera melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas penambangan yang diduga menjadi penyebab utama rusaknya jalan penghubung antar kecamatan tersebut.

Ratusan meter jalan desa di Desa Galagala Pakkailan mengalami kerusakan berat hingga dipenuhi lumpur dan kubangan besar menyerupai kubangan kerbau di area persawahan. Jalan yang sebelumnya merupakan aspal lapen kini berubah menjadi jalan tanah berlumpur dan sulit dilalui kendaraan maupun masyarakat setempat. Kerusakan juga terlihat pada Jembatan Sibangebange yang menjadi penghubung Kecamatan Porsea, Parmaksian, dan Siantar Narumonda. Kondisi papan lantai jembatan dilaporkan sudah banyak yang keropos, retak, berlubang, hingga terlepas dari pembautannya akibat termakan usia serta cuaca ekstrem. Warga menilai kondisi tersebut sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Warga menduga kerusakan jalan dipicu oleh aktivitas tambang pasir yang terus beroperasi di Desa Galagala Pakkailan. Setiap harinya, puluhan dump truk pengangkut pasir dengan muatan berat disebut melintas di jalan desa tersebut tanpa adanya perawatan ataupun perbaikan jalan dari pihak pengelola tambang. Selain tingginya intensitas kendaraan bertonase berat, masyarakat juga menilai kurangnya pengawasan serta perhatian terhadap fasilitas umum menjadi alasan kerusakan semakin parah. Warga menyebut selama bertahun-tahun aktivitas penambangan berjalan, namun kondisi jalan justru semakin memburuk dan dibiarkan tanpa penanganan serius.

Kerusakan jalan perlahan terjadi seiring aktivitas tambang pasir yang terus berlangsung selama bertahun-tahun. Puluhan truk pengangkut pasir disebut keluar masuk setiap hari melewati jalan desa yang menjadi akses utama masyarakat dan penghubung antar tiga kecamatan. Kondisi jalan yang awalnya beraspal lapen akhirnya rusak, terkikis, hingga berubah menjadi kubangan lumpur terutama saat hujan turun. Saat sejumlah wartawan media online melakukan peninjauan ke lokasi tambang pada Sabtu (16/5/2026), salah satu pemilik lahan bernama R Manurung menyebut dirinya hanya pemilik tanah, sementara aktivitas penambangan dan pengangkutan pasir disebut berada di bawah tanggung jawab kepala desa. Pernyataan itu semakin memperkuat keresahan masyarakat yang sejak lama mengeluhkan dampak aktivitas tambang terhadap akses jalan desa mereka. Di sisi lain, Camat Porsea mengaku telah mengingatkan agar aktivitas tambang yang belum memiliki izin sebaiknya tidak beroperasi. Namun hingga kini, warga menilai belum ada tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan jalan maupun menghentikan aktivitas yang dianggap merugikan masyarakat sekitar.

#Toba

#Porsea

#GalagalaPakkailan

#JalanRusak

Infografis Cabjari Porsea

Tweeter Cabjari Porsea

Instagram Cabjari Porsea

Polling