Senin, 27 April 2026, bertempat di Desa Partor Janjimatogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Anjloknya harga cabai di Kabupaten Toba bukan hanya sekadar angka di pasar, tapi benar-benar dirasakan oleh para petani yang setiap hari bergantung pada hasil panen mereka. Merekalah yang paling terdampak, karena cabai yang seharusnya menjadi sumber penghasilan justru harus dijual dengan harga sangat rendah. Di sisi lain, ada para pengepul dan pedagang yang menjadi penghubung antara petani dan pasar, yang turut berperan dalam jalur distribusi cabai tersebut. Sementara itu, pemerintah juga menjadi bagian penting dalam persoalan ini, karena diharapkan dapat hadir memberikan solusi dan menjaga kestabilan harga agar petani tidak terus berada dalam kondisi merugi. Peristiwa yang terjadi adalah anjloknya harga cabai di Kabupaten Toba yang sudah berlangsung hampir dua bulan terakhir. Harga cabai rawit di tingkat petani bahkan hanya berkisar Rp10.000 per kilogram, padahal sebelumnya sempat turun hingga Rp8.000 per kilogram. Kondisi ini membuat para petani menjerit karena harga jual tidak lagi sebanding dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan.
Penurunan harga cabai ini diduga terjadi akibat melimpahnya hasil panen di kalangan petani sehingga stok cabai di pasaran menjadi berlebihan. Selain itu, biaya produksi seperti pupuk dan perawatan tanaman yang cukup tinggi tidak diimbangi dengan harga jual yang layak. Di sisi lain, belum adanya kebijakan harga standar dari pemerintah juga menjadi salah satu penyebab utama petani tidak memiliki perlindungan ketika harga jatuh drastis. Peristiwa ini bermula dari panen cabai yang berlangsung dalam jumlah besar di wilayah Toba, kemudian hasil panen tersebut dijual oleh petani kepada pengepul dengan harga yang terus menurun. Dalam prosesnya, harga cabai perlahan turun dari kisaran normal hingga akhirnya menyentuh angka Rp10.000 per kilogram. Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya perawatan tanaman seperti pemupukan dan penyemprotan pestisida, sehingga ketika harga jual rendah, petani langsung mengalami kerugian yang cukup besar.
Infografis Cabjari Porsea